Update Penanganan Gempa Flores: Polri Pastikan Bantuan dan Pelayanan Terus Bergerak
KUPANG — Hari-hari pascagempa bumi yang mengguncang Pulau Flores belum sepenuhnya berakhir. Di tengah ribuan warga yang masih bertahan di pengungsian dan proses pemulihan yang terus berjalan, jajaran Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (Polda NTT) tetap bergerak dari satu titik ke titik lainnya.

Bukan hanya menjaga keamanan, personel Polri dikerahkan untuk membantu kebutuhan dasar masyarakat, memberikan pelayanan kesehatan, mendampingi anak-anak penyintas, mendistribusikan bantuan hingga menembus wilayah yang sulit dijangkau.

Data penanganan bencana Polda NTT per Sabtu (29/8/2026) pukul 15.00 WITA mencatat sebanyak 144.520 warga masih berada di lokasi pengungsian yang tersebar pada 2.387 titik di tujuh kabupaten terdampak, yakni Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Nagekeo, Sikka, Ende dan Ngada.
Kapolda NTT Irjen Pol. Dr. Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si., melalui Kabidhumas Polda NTT menegaskan bahwa penanganan bencana tidak boleh berhenti pada pendistribusian bantuan semata. Kehadiran personel harus benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat di lapangan.
Karena itu, kekuatan personel terus digerakkan untuk memastikan masyarakat mendapatkan rasa aman sekaligus pendampingan selama masa pemulihan.
Polri Hadir dari Posko hingga Rumah Warga
Polda NTT mengerahkan ribuan personel untuk mendukung operasi kemanusiaan. Kekuatan tersebut tersebar di tujuh wilayah hukum Polres terdampak, dilengkapi posko kepolisian, posko kesehatan dan posko trauma healing.
Data operasi mencatat 20 Posko Polri, sembilan Posko Kesehatan dan sembilan Posko Trauma Healing tersebar di wilayah terdampak. Personel yang diterjunkan tidak hanya berasal dari Polda NTT dan Polres jajaran, tetapi juga diperkuat personel BKO dari berbagai satuan serta dukungan Mabes Polri dan Polda lain.
Di lapangan, tugas mereka beragam. Ada yang mengamankan pengungsian, membantu memasang tenda, membersihkan lingkungan, menyelamatkan barang milik warga, mendistribusikan logistik, hingga memberikan pelayanan medis dan pendampingan psikologis.
Di Kampung Maki, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, misalnya, personel Subsatgas Samapta membantu memasang tenda bagi warga di Posko Mandiri.
Tidak lama berselang, personel kembali turun membantu mengevakuasi padi milik warga yang tertimbun reruntuhan rumah. Material bangunan seperti seng dan kayu yang masih layak digunakan juga diselamatkan agar dapat dimanfaatkan kembali oleh pemiliknya.
Langkah sederhana tersebut menjadi gambaran bagaimana tugas kepolisian dalam situasi bencana tidak hanya berbicara tentang pengamanan, tetapi juga menyentuh kebutuhan langsung masyarakat.
Menjaga Tubuh, Memulihkan Psikologis
Bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik. Rasa takut, kehilangan dan kecemasan juga menjadi persoalan yang harus ditangani.
Karena itu, Polda NTT menempatkan tim trauma healing di sejumlah wilayah pengungsian. Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang mendapat perhatian khusus.
Di Posko SDI Konggang, Kelurahan Waso, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, sebanyak 15 personel konselor Polres Manggarai memberikan pendampingan psikologis kepada anak-anak penyintas.
Kegiatan dilakukan melalui permainan edukatif dan rekreatif, sehingga suasana pengungsian yang sebelumnya dipenuhi kecemasan berubah menjadi ruang yang lebih ceria dan interaktif. Pendekatan tersebut diharapkan membantu anak-anak kembali merasa aman, nyaman dan perlahan membangun kepercayaan dirinya.
Pendampingan psikologis juga dilakukan di wilayah Nagekeo dengan melibatkan tim trauma healing yang memberikan play therapy melalui permainan interaktif, bernyanyi dan aktivitas kelompok.
Sementara bagi masyarakat yang membutuhkan penanganan kesehatan, tim Dokkes melakukan kunjungan ke tenda pengungsian mandiri, memberikan penyuluhan kesehatan, pemeriksaan tanda-tanda vital, vitamin dan obat-obatan. Warga dengan kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut dirujuk ke fasilitas kesehatan setempat.
Bantuan Terus Bergerak
Selain personel, logistik menjadi bagian penting dalam operasi kemanusiaan.
Hingga periode pelaporan, bantuan yang diterima Polda NTT dan jajaran telah mencapai sekitar 304,27 ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 202,90 ton atau 66,68 persen telah didistribusikan, sementara sekitar 101,38 ton masih berada sebagai stok dan disiapkan untuk penyaluran berikutnya.
Distribusi diarahkan ke berbagai wilayah, termasuk kawasan yang memiliki tantangan geografis.
Kabupaten Sikka dan Pulau Palue dijangkau melalui kapal Polair, helikopter serta dukungan trauma healing. Wilayah Manggarai Timur mendapatkan paket sembako, kasur busa, tandon air dan makanan cepat saji. Sementara di Ende disalurkan bantuan sembako, sandang serta perlengkapan tidur.
Polri juga menyiapkan sarana komunikasi bergerak untuk membantu pemantauan kondisi wilayah yang terisolasi. Langkah ini penting agar kondisi masyarakat di lokasi yang sulit dijangkau tetap dapat dipantau dan kebutuhan mereka segera diketahui.
Sekolah Mulai Dipersiapkan Kembali
Di tengah penanganan kebutuhan darurat, perhatian terhadap masa depan anak-anak juga mulai dilakukan.
Personel Polres Manggarai turun langsung mendukung persiapan kembali beroperasinya kegiatan pendidikan setelah gempa. Berdasarkan informasi dalam laporan, kegiatan belajar mengajar di Kabupaten Manggarai masih diliburkan pascagempa dan direncanakan kembali dimulai pada 2 September 2026 sesuai Surat Edaran Dinas PPO Kabupaten Manggarai.
Kehadiran personel Polri di lingkungan pendidikan menjadi bagian dari upaya memastikan proses pemulihan tidak hanya berorientasi pada kebutuhan hari ini, tetapi juga mempersiapkan masyarakat untuk kembali menjalani aktivitas secara bertahap.
Kapolda: Negara Harus Hadir di Tengah Masyarakat
Kapolda NTT Irjen Pol. Dr. Rudi Darmoko, melalui Kabidhumas Polda NTT, menegaskan bahwa jajaran kepolisian akan terus mengawal proses pemulihan masyarakat terdampak gempa.
Menurutnya, menurunnya jumlah pengungsi dari angka puncak tidak otomatis berarti kebutuhan masyarakat telah selesai. Kondisi di lapangan harus terus dipantau karena perpindahan warga, pendataan ulang maupun perubahan lokasi pengungsian dapat memengaruhi kebutuhan bantuan.
Karena itu, seluruh jajaran diminta tetap responsif terhadap setiap informasi dari masyarakat, khususnya apabila masih terdapat warga yang membutuhkan bantuan, pelayanan kesehatan, pengamanan maupun dukungan lainnya.
Polda NTT juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga kebersamaan dan saling membantu selama proses pemulihan berlangsung. Warga yang masih berada di bangunan yang mengalami kerusakan diimbau tetap mengutamakan keselamatan dan mengikuti arahan petugas serta pemerintah daerah.
Bagi Polri, pemulihan pascabencana bukan pekerjaan sehari atau dua hari. Ketika sebagian warga mulai kembali beraktivitas, masih ada keluarga lain yang membutuhkan pendampingan. Ketika satu posko mulai berkurang, bisa saja kebutuhan bergeser ke lokasi lainnya.
Karena itu, personel akan terus hadir di lapangan—menjaga, membantu, mengobati, mendampingi dan memastikan bantuan bergerak menuju masyarakat yang membutuhkan.
Di tengah Flores yang perlahan bangkit dari guncangan, pesan yang ingin disampaikan Polri sederhana: masyarakat tidak sendiri. Negara hadir, dan Polri akan terus bergerak bersama masyarakat sampai proses pemulihan benar-benar berjalan.
NTT Penuh Kasih, Polri untuk Masyarakat.
Humas Polda NTT
