Tangki Cinta yang Kosong Bisa Merusak Keluarga, Coach Agus E.H. Ungkap Pentingnya Memahami Bahasa Kasih
KUPANG – Mengapa ada pasangan suami istri yang tinggal serumah tetapi terasa berjauhan? Mengapa ada anak yang lebih betah bermain gim daripada berbicara dengan orang tuanya? Mengapa sebagian anak sering membuat masalah, menarik diri, atau bahkan kehilangan kedekatan dengan keluarganya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi salah satu pembahasan menarik yang disampaikan Direktur SBMS sekaligus Praktisi USEFT, Agus E.H., dalam Seminar The Art of Smart Parenting yang digelar Polda NTT dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80 dan Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari ke-74 di Hotel Harper Kupang, Selasa (9/6/2026).
Dalam sesi bertajuk Bahasa Cinta (Love Language), Agus menjelaskan bahwa banyak konflik rumah tangga maupun persoalan perilaku anak sebenarnya berawal dari satu hal sederhana, yakni "tangki cinta" yang kosong.
"Psikologi menyimpulkan bahwa kebutuhan untuk mengasihi dan dikasihi merupakan kebutuhan emosi primer manusia. Ketika kebutuhan itu tidak terpenuhi, maka akan muncul berbagai masalah dalam hubungan keluarga," jelas Agus.
Ketika Tangki Cinta Suami Istri Mulai Kosong
Menurut Agus, banyak pasangan tidak menyadari bahwa hubungan yang mulai renggang sering kali disebabkan karena kebutuhan emosional masing-masing tidak terpenuhi.
Ia menyebut beberapa gejala yang kerap muncul ketika tangki cinta dalam hubungan suami istri mulai kosong.
Di antaranya munculnya ketertarikan kepada orang ketiga, pasangan yang tidak lagi betah berada di rumah, enggan menghabiskan waktu bersama, hingga sikap saling mempertahankan ego dan tidak mau mengalah.
"Masalah rumah tangga sering kali bukan karena tidak ada cinta, tetapi karena cinta yang ada tidak tersampaikan dengan bahasa yang tepat," ujarnya.
Agus menjelaskan bahwa banyak pasangan merasa sudah memberikan perhatian terbaik, namun pasangan tidak merasakan hal yang sama karena cara menunjukkan kasih sayang berbeda dengan kebutuhan yang diharapkan.
Saat Anak Kehilangan Kehangatan Rumah
Fenomena serupa juga terjadi pada anak-anak.
Menurut Agus, anak yang tangki cintanya kosong akan menunjukkan berbagai perilaku yang sebenarnya merupakan sinyal bahwa mereka membutuhkan perhatian dan kedekatan emosional.
Beberapa tanda yang sering muncul antara lain anak tidak betah berada di rumah, sering membuat ulah, menghindari orang tua dengan berbagai alasan, merasa gelisah ketika berada bersama keluarga, menuntut sesuatu yang belum sesuai usianya, hingga menghabiskan sebagian besar waktunya bermain gim atau tenggelam dalam dunia digital.
"Sering kali orang tua hanya melihat perilakunya, tetapi tidak melihat kebutuhan emosional yang ada di balik perilaku tersebut," jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa setiap perilaku anak selalu memiliki pesan yang ingin disampaikan. Karena itu, orang tua perlu memahami apa yang sebenarnya sedang dirasakan anak, bukan hanya fokus pada kesalahannya.
Ketika Cinta Disampaikan dengan Bahasa yang Berbeda
Dalam pemaparannya, Agus memberikan sejumlah contoh sederhana yang menggambarkan bagaimana kasih sayang sering kali gagal diterima karena menggunakan "bahasa" yang berbeda.
Ia menceritakan kisah seorang ayah bernama Anto yang menghabiskan waktu berjam-jam membuat rak buku untuk putrinya, Dewi. Bagi Anto, tindakan tersebut merupakan bentuk cinta dan perhatian. Namun bagi Dewi, yang paling ia inginkan sebenarnya adalah waktu untuk mengobrol dan bermain bersama ayahnya.
Contoh lain terjadi pada Sari yang dengan penuh perhatian membelikan tas baru untuk sahabatnya, Lina. Namun Lina justru merasa ada yang kurang karena tidak menerima pesan atau kata-kata yang menyentuh hati di hari ulang tahunnya.
Begitu pula dalam kehidupan rumah tangga. Seorang suami mungkin merasa telah menunjukkan kasih sayang dengan memberikan petunjuk, solusi, atau memenuhi kebutuhan keluarga. Namun sang istri bisa saja merasa kurang diperhatikan karena yang ia harapkan adalah bantuan nyata dalam pekerjaan rumah atau waktu berkualitas bersama.
"Inilah yang disebut perbedaan bahasa cinta. Kita merasa sudah memberi cinta, tetapi orang yang menerima belum tentu merasakan cinta itu," ungkap Agus.
Memahami Bahasa Kasih Kunci Keharmonisan
Agus menjelaskan bahwa setiap orang memiliki cara berbeda dalam menerima dan merasakan kasih sayang.
Ada yang merasa dicintai melalui kata-kata penghargaan dan dukungan, ada yang membutuhkan waktu berkualitas bersama, ada yang membutuhkan sentuhan fisik, tindakan pelayanan, maupun hadiah sebagai simbol perhatian.
Masalah muncul ketika seseorang memberikan cinta dengan cara yang ia sukai, bukan dengan cara yang dibutuhkan oleh pasangannya atau anaknya.
"Kasih sayang yang diberikan belum tentu sama dengan kasih sayang yang dirasakan. Karena itu, memahami bahasa cinta pasangan dan anak merupakan investasi terbesar dalam membangun keluarga yang sehat," katanya.
Mengenali Bahasa Cinta Melalui Tes dan Refleksi
Untuk membantu peserta memahami karakter diri dan keluarganya, Coach Agus kemudian mengajak seluruh peserta mengikuti tes sederhana guna mengenali bahasa cinta dominan masing-masing.
Melalui sesi interaktif tersebut, para peserta diajak merefleksikan bagaimana selama ini mereka menunjukkan kasih sayang kepada pasangan maupun anak-anak, sekaligus memahami kebutuhan emosional orang-orang terdekat mereka.
Suasana seminar pun berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Banyak peserta mengaku baru menyadari bahwa selama ini mereka telah berusaha mencintai keluarga dengan sungguh-sungguh, namun belum tentu menggunakan bahasa yang dipahami oleh orang yang dicintai.
Membangun Keluarga yang Penuh Kasih
Di akhir sesi, Agus mengingatkan bahwa keluarga yang harmonis tidak dibangun oleh kemewahan, jabatan, ataupun materi semata.
Kehangatan keluarga lahir ketika setiap anggota merasa diterima, dihargai, dipahami, dan dicintai dengan cara yang mereka butuhkan.
"Anak-anak tidak selalu membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka membutuhkan orang tua yang hadir. Pasangan juga tidak selalu membutuhkan hadiah yang mahal. Mereka membutuhkan perhatian yang tulus. Ketika tangki cinta terisi penuh, hubungan akan menjadi lebih kuat dan sehat," tutup Agus.
Melalui pemahaman tentang bahasa cinta ini, seminar The Art of Smart Parenting tidak hanya mengajarkan teori pengasuhan, tetapi juga mengajak setiap keluarga untuk kembali membangun hubungan yang hangat, sehat, dan penuh kasih sebagai fondasi utama melahirkan generasi hebat di masa depan.
#NttPenuhKasih
Humas Polda NTT
