Lima Hari Menyapa dari Titik ke Titik, Polres Manggarai Barat dan IASI Jangkau 1.358 Warga Pascagempa

Lima Hari Menyapa dari Titik ke Titik, Polres Manggarai Barat dan IASI Jangkau 1.358 Warga Pascagempa

LABUAN BAJO – Di tengah tenda-tenda darurat dan bangunan yang masih menyisakan bekas guncangan, suara tawa anak-anak perlahan kembali terdengar.

Di halaman Asrama Putri Arnoldus Yansen, Desa Batu Cermin, Kabupaten Manggarai Barat, sejumlah personel kepolisian mengajak anak-anak bermain, bernyanyi dan mengikuti permainan sederhana. Untuk sesaat, rasa takut akibat gempa yang mereka alami berganti menjadi senyum dan keceriaan.

Pemandangan itu menjadi bagian dari rangkaian aksi kemanusiaan Polres Manggarai Barat bersama Tim Relawan dan Pelayanan Medis Ikatan Alumni Serviam Indonesia (IASI) selama lima hari, 21 hingga 25 September 2026.

Dari satu titik ke titik lainnya, personel Satuan Binmas dan Seksi Kedokteran dan Kesehatan (Si Dokkes) Polres Manggarai Barat bersama relawan IASI bergerak membawa tiga kebutuhan sekaligus: menguatkan mental, memeriksa kesehatan, dan membantu memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak gempa.

Bukan hanya mendatangi lokasi yang mudah dijangkau, tim juga menyisir sejumlah titik di Kecamatan Boleng, Komodo dan Mbeliling.

Kapolres Manggarai Barat AKBP Christian Kadang, S.I.K., mengatakan pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan memperbaiki bangunan yang rusak. Kondisi psikologis warga, terutama anak-anak dan kelompok rentan, juga membutuhkan perhatian.

“Kami menyadari bahwa luka fisik bisa dijahit dan bangunan roboh bisa dibangun kembali. Namun, luka batin anak-anak akibat trauma bencana membutuhkan sentuhan kasih yang cepat dan tepat,” ujar AKBP Christian saat dikonfirmasi, Sabtu (26/9/2026).

Menurutnya, kehadiran personel Polres Manggarai Barat di tengah masyarakat merupakan bagian dari upaya memberikan rasa aman sekaligus mendampingi warga melewati masa pemulihan.

“Kehadiran Polri Presisi di sini bukan sekadar menjaga keamanan, melainkan hadir sebagai pelindung dan pengayom raga serta jiwa masyarakat yang sedang berduka,” sambungnya.

Di berbagai lokasi, trauma healing dikemas dengan cara yang dekat dengan dunia anak. Mereka diajak bernyanyi, bermain tebak kata, mewarnai, hingga mendapatkan edukasi tentang Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Salah seorang anak, Maria (10), siswi asal Desa Melo, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut.

“Kemarin-kemarin kalau dengar bunyi keras sedikit saya langsung takut dan mau lari keluar rumah. Tapi hari ini senang sekali bisa main tebak-tebakan sama kakak-kakak polisi dan ibu dokter,” tuturnya.

Dari Trauma Healing hingga Layanan Kesehatan

Selain pemulihan psikologis, kondisi kesehatan warga juga menjadi perhatian. Tim Si Dokkes Polres Manggarai Barat bersama relawan medis IASI memberikan pemeriksaan kesehatan dasar, termasuk pemeriksaan gula darah sewaktu, pemantauan tekanan darah, serta pemberian multivitamin.

Layanan tersebut menyasar warga, khususnya kelompok rentan seperti lansia, tenaga pendidik dan penghuni asrama.

Kolaborasi dengan IASI turut memperluas jangkauan pelayanan. Dokter dan perawat relawan bersama personel Polri bahkan melakukan pemeriksaan secara langsung dari pintu ke pintu bagi warga lansia dan penyandang disabilitas.

Perwakilan Tim Relawan IASI, Suster Pia Yustina Sutini, OSU, mengatakan pelayanan tersebut dilandasi semangat untuk hadir bagi masyarakat yang membutuhkan.

“Nilai dasar kami adalah pelayanan tanpa sekat. Ketika bencana melanda Manggarai Barat, kami tidak bisa tinggal diam. Sinergi bersama Polres Mabar membuat pemetaan lapangan menjadi sangat presisi, sehingga bantuan medis dan logistik bisa menjangkau titik terluar yang paling membutuhkan,” ungkap Sr. Tini, OSU.

Menjangkau 1.358 Warga

Selama lima hari pelaksanaan, rangkaian aksi kemanusiaan tersebut menjangkau sedikitnya 1.358 warga di sejumlah lokasi di Kecamatan Boleng, Komodo dan Mbeliling.

Kegiatan dimulai Senin (21/9) di Dusun Rangko, Desa Tanjung Boleng. Sebanyak 215 warga mendapatkan edukasi PHBS, arahan kamtibmas, pemeriksaan kesehatan bagi lansia dan guru, serta bantuan 200 paket sembako.

Sehari berikutnya, Selasa (22/9), tim bergerak menuju Dusun Capi, Kecamatan Komodo, memberikan pelayanan medis dasar sekaligus menyalurkan bantuan bahan pokok kepada 115 warga.

Rabu (23/9), kegiatan berlangsung di tiga lokasi, yakni Desa Melo, Kecamatan Mbeliling, Asrama Putri Arnoldus Yansen dan Asrama Seminari Ketentang di Batu Cermin.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup Jumat (25/9) dengan penyaluran perlengkapan tidur dan paket nutrisi di TK Pembina, Pesantren Al-Akbar serta Asrama Seminari Labuan Bajo.

Bantuan yang disalurkan meliputi 200 paket sembako, 70 kasur spons lipat, 700 selimut, 520 handuk clean kit, 50 sarung, 10 karpet, serta puluhan dus biskuit dan susu nutrisi anak.

Bantuan yang Menguatkan

Bagi warga penerima bantuan, kehadiran tim kemanusiaan bukan hanya soal barang yang dibawa pulang. Ada rasa tenang karena mereka tahu masih ada pihak yang datang untuk mendampingi.

Pengasuh Pondok Pesantren Tanbihul Ghafilin Labuan Bajo, Ustadz Kafi, menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan kepada para santri dan pengajar.

“Bantuan sarana tidur dan paket nutrisi ini sangat berarti bagi anak-anak kami di pesantren. Namun yang lebih penting dari itu adalah rasa tenang karena kami merasa tidak berjalan sendiri menghadapi musibah ini,” ungkapnya.

Bagi Polres Manggarai Barat, aksi kemanusiaan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga situasi kamtibmas selama masyarakat berada dalam masa pemulihan.

Kehadiran polisi yang tidak hanya menjalankan fungsi keamanan, tetapi juga mendampingi warga, memberikan pelayanan kesehatan dan membantu memenuhi kebutuhan dasar, menjadi bagian dari upaya membangun kembali rasa aman di tengah masyarakat.

Meski rangkaian kegiatan lima hari telah berakhir, pemantauan kondisi kesehatan warga tetap menjadi perhatian, khususnya di lingkungan pesantren dan asrama sekolah yang terdampak.

Di Manggarai Barat, pemulihan terus berjalan. Bangunan perlahan diperbaiki, kehidupan mulai ditata kembali, dan trauma sedikit demi sedikit diurai.

Sebab setelah gempa mengguncang tanah, yang dibutuhkan masyarakat bukan hanya bantuan untuk bertahan, tetapi juga kehadiran yang membuat mereka percaya bahwa mereka masih memiliki banyak tangan untuk bersama-sama bangkit.